Cerita Pemilik Rumah

Dulu ia sering lewat depan rumah.

Dari dalam, suka aku perhatikan.

Gerak geriknya tidak mencurigakan.

Hanya saja dia suka tersenyum ketika lewat.

Entah kenapa bibir ini ikut senyum.

Ini jadi rutinitas baruku tiap jam 8, duduk di depan jendela,

Menunggu si pemilik senyum manis lewat.

 

Sampai suatu ketika ia bikin kaget.

Diketuklah pintu rumah ini.

Dan ketika aku buka, ia bertanya tentang pemilik rumah yang suka duduk di jendela.

Dengan malu aku menjelaskan bahwa aku selalu menunggu dia, sang pemilik senyum manis lewat depan rumah.

Dia senyum, senyum yang beda dari biasanya.

Dan sebelum pamit pulang dia beri aku bingkisan.

Bingkisan janji akan datang lagi kemari.

Tiap hari dia selalu datang,

Entah bagaimana membuatku tertawa adalah rutinitas barunya.

 

Sampai suatu ketika,

Dia mulai jarang datang.

Bahkan untuk lewat saja sangat jarang.

Ketika aku tanya tetangga, dia suka lewat jalan lain katanya.

Pernah ku kirim pesan lewat merpatipun hanya diabaikan.

Pernah pula bertemu tanpa sengaja dan anehnya dia tidak menyapa.

Saat aku sapa lebih dulu, dia hanya memasang senyum datar.

Aku sempat beri dia bingkisan pesan,

Aku akan membuka pintu rumah.

 

Tahun pun berganti, sang pemilik senyum manis tak kunjung datang.

Pintu akhirnya aku tutup.

Tirai-tirai jendela pun turut menghalangi.

Rumah sudah terlampau dingin.

Padahal ini bukan musim penghujan.

Apa kabar pemilik senyum manis?

Jalan mana yang sekarang kamu lewati?

Advertisements

Time; When?

It’s about time, they said.

As i look up to the skies, I wonder when will I be whole again?

It’s about time, I said.

It’s about time when the clouds finally let the moon show itself.

It’s about time when the stars blinks like they tried to sing by its light.

It’s about time when the moon finally become the whole again.

And when that time come.

I will wear my biggest smile.

I know I can be whole again.

Bandara Udara.

Ini tentang nasib seseorang yang jauh dibelahan bumi.

Selalu dipaksa singgah di bandara.

Jangan terlambat kalau mau pamit,

Mereka tidak kenal toleransi waktu katanya.

Jangan terlambat untuk menjemput,

Kasian yang sudah tak sabar ingin berjumpa.

Atau untuk kamu yang terpaksa sendiri di bandara, boleh saran?

Jangan terlalu banyak menoleh kebelakang!

Ingat, Kamu bukan Cinta.

Dan dia bukan Rangga.

Dia belum tentu datang.

Dan mungkin tidak akan datang.

Senin Ini

Enam hari menuju minggu.

Dia yang selalu menghitung senin ke minggu.

Padahal hari minggu juga bisa buruk,

Atau lupa senin juga bisa baik?

Bukannya tergantung dimana dia mau memandang?

Atau kalau mau, ayo aku temani!

Bagaimana jikalau kita duduk ditemani pergantian langit nanti?

Akan kubawa gitarku,

Dan mari, kita buat senin ini seperti minggumu.

Pencinta Langit Jingga

Mereka,

Pemuja senja,

Dan pemuja fajar.

 

Aku dengar sang pemuja senja dan fajar sedang jatuh cinta.

Manis kata mereka.

Rintih hati berkata.

 

Aku dengar mereka suka berdebat manis tentang langit mana yang lebih bagus.

Sang pemuja fajar sering mengalah, senja yang lebih bagus katanya.

Ah, padahal aku tahu dia hanya ingin melihat senyum manis kemenangan dari pemuja senja.

 

Pernah sekali aku dengar sang pemuja fajar mengeluh.

Aneh,

Padahal dirinya jarang mengeluh.

Ketika aku tanya, terlambat menghadiri fajar katanya.

Malam yang disalahkannya.

Malam yang salah,

Malam yang salah,

Malam yang salah!

 

Maaf,

Sebagai pemuja malam aku minta maaf.

Bukan maksud hati merusak fajarmu.

Setidaknya kamu bisa hadir saat senja,

Bersama sang pemujanya.

Pemujanya, yang kini kau puja.

Pesan Suara Yang Tak Sampai

Halo? Selamat malam!
Sudah tidur? Kalau mengantuk jangan tidur dulu! Ini penting! Coba tengok langit malam ini! Ayolah, sebentar saja.

Ayo, sini! Duduk disebelahku!
Iya, aku tahu di sini banyak nyamuk yang suka makan dan berisik beradu perumpaan tentang lautan bintang malam ini.

Ayo, sini! Duduk disebelahku!
Mari kita bandingkan bintang mana yang lebih terang. Atau kamu mau lihat bagaimana aku yang pura-pura tahu rasi bintang? Atau mau bertukar cerita? Atau hanya mau diam dan terpesona dengan langit malam?

Halo? Halo?
Kenapa hanya hening?
Halo? Kamu dengar suaraku?
Halo? Kamu dimana?


Ditulis dibawah lautan bintang pada malam Nyepi 2018.