Cokelat hangat.

Aku benci kata “Mungkin”,

Aku benci kata “Hampir”.

 

Aku benci bagaimana dua kata itu menjadi suatu kalimat pemberi rasa senang tersendiri saat aku merangkainya.

Aku benci saat kenyataan yang ada jauh berbeda dengan kalimat atau bualan yang tadi sore aku buat ketika termenung di teras depan.

Aku benci saat tahu bahwa bualan itu hanyalah kesenangan yang tercipta dari imajinasi konyol tentang aku dan kamu.

Aku benci saat bualan itu hanya memperkuat pondasi rindu yang sudah lama inginku runtuhkan.

Aku benci saat pondasi itu makin kuat dan ketika aku sadar, malah hujan yang datang.

Aku benci saat hujan datang bersama teriakan petir yang memanggil kamu untuk kembali pulang.

 

Dan hal yang paling aku benci adalah saat aku tahu bahwa kamu sedang berteduh di rumah barumu.

Ah, padahal aku sudah siapkan cokelat hangat untukmu.

Cokelatnya sudah mulai dingin.

Kamu yakin tidak mau pulang kemari?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s