½

Jauh lari dari sana sampai sini,

Maaf menyuruhmu lari tadi.

Sini, minum dulu.

Kenapa tidak mau?

“Gelasnya setengah kosong”, katamu.

Advertisements

Pantai, kala itu..

Sebelumnya saya ingin menjelaskan bagaimana kalimat ini bisa terlintas dipikiran saya. Ah baku banget, gini-gini, waktu itu aku jogging sendirian di pantai. Sekitar tanggal 6 september 2017 mungkin? Sedikit lupa yang jelas pagi itu udaranya hangat, indah pemandangannya, dan sepi. Bukan untuk seseorang dan mungkin daripada dipendam lebih baik di post walaupun ga jelas makna atau kalimatnya maafkan yaaa. Enjoy!



 

Sang ombak memang pandai merayu,

Kadang ombaknya hanya sampai kaki, kadang sampai lutut, dan kadang sampai airnya mengenai wajah.

Sang angin juga pandai mengacak rambut.

Seolah dia berkata tidak apa apa.

Sang matahari pandai memeluk,

Memeluk dengan hangat dia yang sedang rapuh.

Sang pasir membenamkan kakiku, langkah berat,

Seakan menyuruh tetap disini.

Jangan pergi, katanya.

Kolam Renang

Di kolam renang,

Kamu bermain air bersama mereka.

Mereka yang suka bermain seluncuran yang tinggi, atau sebagian ada yang suka berenang kesana kemari.

Menikmati segarnya air dan indahnya gemercik air yang terbentuk dari apa yang mereka lakukan.

Kamu?

Kamu juga ikut bermain seluncuran yang tinggi itu.

Kamu juga ikut berenang di kolam bersama mereka.

Mereka senang, mereka tertawa, mereka bahagia.

Kamu?

Kamu tidak suka kolam renang,

Kamu bahkan tidak bisa berenang.

Berapa kali sudah tenggelam dikala mereka sedang bersenang-senang?

Cokelat hangat.

Aku benci kata “Mungkin”,

Aku benci kata “Hampir”.

 

Aku benci bagaimana dua kata itu menjadi suatu kalimat pemberi rasa senang tersendiri saat aku merangkainya.

Aku benci saat kenyataan yang ada jauh berbeda dengan kalimat atau bualan yang tadi sore aku buat ketika termenung di teras depan.

Aku benci saat tahu bahwa bualan itu hanyalah kesenangan yang tercipta dari imajinasi konyol tentang aku dan kamu.

Aku benci saat bualan itu hanya memperkuat pondasi rindu yang sudah lama inginku runtuhkan.

Aku benci saat pondasi itu makin kuat dan ketika aku sadar, malah hujan yang datang.

Aku benci saat hujan datang bersama teriakan petir yang memanggil kamu untuk kembali pulang.

 

Dan hal yang paling aku benci adalah saat aku tahu bahwa kamu sedang berteduh di rumah barumu.

Ah, padahal aku sudah siapkan cokelat hangat untukmu.

Cokelatnya sudah mulai dingin.

Kamu yakin tidak mau pulang kemari?

 

Senja, jangan percaya!

Tadi, mereka memuji keindahan sang Senja.

Ah, mereka.

Jauh jauh dari seberang sana hanya ingin berjumpa kamu.

Katanya mereka terpesona.

Cuih. Pembohong.

Jangan percaya dengan mereka, Senja!

Mereka pembual.

Lihat saja,

Di seberang sana,

Mereka berlomba-lomba menutupimu

Dengan istana yang katanya “megah”itu.