Cokelat hangat.

Aku benci kata “Mungkin”,

Aku benci kata “Hampir”.

 

Aku benci bagaimana dua kata itu menjadi suatu kalimat pemberi rasa senang tersendiri saat aku merangkainya.

Aku benci saat kenyataan yang ada jauh berbeda dengan kalimat atau bualan yang tadi sore aku buat ketika termenung di teras depan.

Aku benci saat tahu bahwa bualan itu hanyalah kesenangan yang tercipta dari imajinasi konyol tentang aku dan kamu.

Aku benci saat bualan itu hanya memperkuat pondasi rindu yang sudah lama inginku runtuhkan.

Aku benci saat pondasi itu makin kuat dan ketika aku sadar, malah hujan yang datang.

Aku benci saat hujan datang bersama teriakan petir yang memanggil kamu untuk kembali pulang.

 

Dan hal yang paling aku benci adalah saat aku tahu bahwa kamu sedang berteduh di rumah barumu.

Ah, padahal aku sudah siapkan cokelat hangat untukmu.

Cokelatnya sudah mulai dingin.

Kamu yakin tidak mau pulang kemari?

 

Senja, jangan percaya!

Tadi, mereka memuji keindahan sang Senja.

Ah, mereka.

Jauh jauh dari seberang sana hanya ingin berjumpa kamu.

Katanya mereka terpesona.

Cuih. Pembohong.

Jangan percaya dengan mereka, Senja!

Mereka pembual.

Lihat saja,

Di seberang sana,

Mereka berlomba-lomba menutupimu

Dengan istana yang katanya “megah”itu.

Tadi malam..

Pernah tidak kamu takut tentang hal yang akan terjadi?

Aku sering.

Kemarin malam aku takut. Kata mereka kalau tidur bisa menghilangkan perasaan itu sejenak.

Mereka bohong.

Aku selalu terbangun 2 jam sekali, diikuti perasaan tidak enak.

Aku lebih dari takut.

Lalu, paginya perasaan itu makin buruk.

Aku sampai ingin muntah. Tanganku dingin. Tapi keringat menetes.

Aneh.

 

Kamu bisa tolong aku? kumohon.

Jangan Tanya

Jangan tanya aku sedang apa. Aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan.

Jangan tanya aku bagaimana. Aku tidak juga mengerti.

Jangan tanya kabarku. Aku bingung jawaban mana yang lebih kuat.

Baik atau tidak.

Ah, bingung. Apa tidak ada kata yang pantas menjelaskannya?

 

 

Jawab baik saja, katamu. Siapa tahu jadi kenyataan.

 

 

Gelapku

Kalau aku menunjukkan sisi gelapku,

Apa yang kamu akan lakukan?

Lari? Takut?

Jangan.

 

Bantu aku menelusuri gelapnya,

Hidupkan cahaya

Jangan jadi lilin

Jangan jadi obor

Nanti kamu kena panasnya.

 

Bakar aku saja

Biar kamu,

Tidak terjebak dalam gelapku.


Selasa, 6 Desember 2016.